Cahaya kembali bersinar.
Pagi itu, aku berniat pergi kesuatu tempat mengunjungi temanku di daerah jakarta utara, tapi sepertinya langit tidak mengizinkanku untuk beranjak dari rumah. Hujan turun begitu deras.
Pukul 1.40pm, tiba-tiba ponselku berdering. Dering yang tidak biasanya. Karena dering itu hanya aku set untuk satu orang tertentu. Aku cukup tersentak mendengarnya. Ini adalah hari ke enam belas aku tidak mendengar dering seperti itu. Setelah aku memilih untuk menghilang dan iapun menghilang.
Satu pesan masuk diponselku. Nama yang tertera pada ponselku sangat tidak asing. Orang yang selalu aku rindukan dalam setiap detikku. Ya, orang itu mengatakan bahwa dia sedang berada disuatu tempat yang cukup dekat dengan rumahku. Walaupun harus menempuh jarak 1jam perjalanan.
Pesan yang awalnya aku tidak ingin membalasnya, tapi ternyata hati tidak dapat menolak. Seolah menyabotase sistem otak dan memerintah untuk membalas pesan itu. Dan saat itu obrolan singkat terjadi.
Dia mengatakan bahwa dia ingin aku kesana menemuinya. Awalnya aku ragu, permintaannya tak meyakinkanku 100%. Akhirnya aku katakan bahwa aku tidak tau jalan kesana. Memang, aku memang tidak tau jalan kesana.
Tapi sekali lagi hatiku menyabotase sistem otakku. Aku bahkan tak butuh waktu lama untuk berfikir. Hujan yang tadinya turun sangat derespun mendadak berhenti dan langit menjadi terang. Seolah cahaya kembali bersinar...
Secara alami, aku sesegera mungkin mengganti pakaianku dan bergegas kesana. Bukankah aku sudah mengatakan tidak tau jalan?
Ya, tapi teknologi terlalu canggih. Dan kali ini aku memanfaatkan sistem GPS di ponselku.
Tepat seperti yang ada di Maps, satu jam perjalanan. Aku bahkan belum memberi taunya bahwa aku sudah sampai ditempat itu. Aku mencoba mencari tau sendiri tempatnya bekerja. Tapi aku tetap tidak berhasil. Aku menyerah.
"Aku ada didepan perumahan deket mall. Kantornya sebelah mana?"
-Sent to Cahaya
"Kamu disini? Sama siapa?"
-Replied from Cahaya
Obrolan singkat terjadi lagi. Dan akhirnya aku melihatnya. Ia berada di cafe tepat diseberang mall yang sedang aku masuki.
Sejujurnya aku datang bukan untuk menemuinya, aku hanya ingin melihatnya walau dari kejauhan. Dan hari ini terwujud.
Tapi mengapa rasanya aneh, ketika aku menangkap sosok lelaki itu dimataku, jantungku berdegup sangat cepat. Ini bukan pertemuan yang pertama. Ini sudah yang kesekian kalinya, kenapa rasanya seperti ini? Apa karena enam belas hari kemarin aku tidak tau kabarnya?
Meskipun aku sudah melihatnya, tapi ia tidak melihatku. Aku memperhatikannya dari jauh. Ketika ia berbicara dengan seorang klien. Ya, manusia itu ga pernah berubah. Selalu banyak hal yg dibicarakan.
Aku benar-benar memandanginya dari kejauhan.
"Tuhan, ternyata dia masih dalam keadaan sehat"
Aku bahagia mengetahuinya...
Aku cukup lama duduk di salah satu restaurant didalam mall. Sebelum akhirnya ia melihatku dan menghampiri.
Melihatnya melangkah mendekatiku, ini benar-benar nyata. Bagaimana bisa jantungku semakin cepat berdetak...
Sampai akhirnya ia duduk tepat di depanku.
Aku melihat wajahnya lagi, aku melihat senyumnya lagi, aku melihat matanya lagi.
Memang enam belas hari tanpa kabar. Tapi sudah enam bulan lalu aku melihatnya secara langsung didepanku.
Aku benar-benar tidak bisa berbohong. Tubuhku gemetar. Aku menutup wajahku menghindari tatapannya dan mencoba menenangkan diriku.
Ia seakan tidak terganggu dengan sikap anehku. Lelaki itu bercerita tentang pekerjaan barunya. Betapa excited-nya ia akan project barunya. Aku sungguh turut bahagia melihatnya. Melihat senyum dan semangat itu. Ditambah lagi, aku melihat suatu pemberianku yang masih ia pakai sampai sekarang. Terimakasih.
Setelah ia selesai cerita, ia mengamatiku. Mengomentari sepatu yang aku pakai. Ya, manusia itu tau persis aku sangat menginginkan sepatu itu. Dan sekarang aku memakainya.
Lalu, kenapa harus dia menunduk kebawah meja dan sedetail itu memperhatikanku.
"Tuhaaan, bagaimana bisa aku tidak jatuh cinta padanya, caranya menatapku, caranya memperhatikanku, caranya tersenyum padaku dan caranya bercerita padaku, aku merasa menjadi satu-satunya wanita yang ia lihat dalam hidupnya."
Setelah sepuluh menit perbincangan. Ia pergi lagi untuk menemui kliennya dan pergi ke tempat kerjanya. Setelah sebelumnya mentraktirku makan. Padahal saat kita ngobrol lewat ponsel tadi, akulah yang mau mentraktirnya.
Terimakasih, telah menemuiku walau sebentar.
Terimakasih, membuat rasa ini kembali.
Terimakasih, masih selalu menganggapku ada dan mengabariku.
Terimakasih, karena kamu membuatku sangat bahagia.
Sampai jumpa dan semoga bertemu lagi ketika kita sudah sama-sama mencapai mimpi kita. Aamiin.
Comments