Berharaplah pada yang Benar!


Aku bersiap berangkat untuk interview dengan harapan yang penuh dan yakin. Beberapa hari yang lalu, sebuah bank swasta terkenal menginformasikan melalui email bahwa aku diundang untuk interview. Lokasinya cukup jauh dari rumahku sebenarnya, tapi karena aku sudah beberapa kali kedaerah sana bagiku itu cukup dekat.
Satu setengah jam perjalanan aku melintasi jalanan ibu kota yang penuh dengan polusi dan kendaraan yang tumpah ruah, dengan motor matic-ku. Disepanjang perjalanan aku berdoa dengan penuh harapan, berharap Allah akan meridhoi perjalananku dan memudahkan proses interview dan seleksi untuk menjadi bagian dalam salah satu Bank swasta terkenal itu.
Ternyata jalanan ibukota pada hari senin itu lebih padat dari yang aku banyangkan. Interview dimulai jam 8 pagi ini. Aku sengaja berangkat lebih pagi dari rumah supaya jika ada hal yang tidak diharapkan terjadi -ban bocor misalnya- aku bisa mengatasinya dan tetap tepat waktu sampai dilokasi.
Kurang lebih lima belas menit lagi aku sampai dilokasi. Daaaaan, benar! Sesuatu yang tidak diharapkan terjadi, bukan ban motor yang bocor seperti yang aku bayangkan tapi lebih parah. Sepatu yang aku pakai jebol! Ya aku memang tidak terbiasa memakai sepatu pantofel seperti ini saat berkendara. Biasanya aku memilih memakai sepatu kets saat berkendara. Tapi hari ini aku tidak mau repot untuk mengganti sepatu ketika sampai dilokasi. Akhirnya aku memilih memakai sepatu pantofel dari rumah. Alhasil, ini lebih merepotkan dari yang kubayangkan!
Aku paksakan tetap memakainya sampai lokasi. Berharap ada toko sepatu dalam perjalanan. Tapi ternyata nihil!
Sesampainya dilokasi aku segera memarkirkan motorku. Berjalan keluar parkiran berharap ada warung pinggir jalan yang menjual lem, setidaknya untuk menambal sepatuku ini sementara.
Aku berjalan keluar gedung. Jam ditanganku menunjukan pukul tujuh. Aku berkeliling gedung mencari warung yang buka tapi aku bahkan tidak menemukan warung satupun, yang terlihat hanya gedung-gedung mewah. Ya tidak ada warung diantara gedung tinggi ini.
Akhirnya aku memutuskan kembali ke gedung tempat aku akan melakukan interview. Aku bertanya pada office girl disana apakah mereka mempunyai lem atau tidak. Tapi tetap tidak ada hasil.
Aku memilih menyerah dan memutuskan tetap mengikuti interview dengan kondisi sepatu yang buruk. Aku sedikit menyeret kakiku saat berjalan. Berharap rusaknya tidak semakin parah.
Aku segera menuju lift dan naik ke lantai 6 gedung ini. Saat masuk tadi aku juga berkenalan dengan beberapa orang yang juga kandidat untuk interview. Mereka ramah. Baik.
Sesampainya dilantai 6 aku melihat ada banyak sekali orang yang menggunakan baju putih celana hitam. Aku menarik kesimpulan bahwa mereka juga akan mengikuti interview, sama sepertiku.
Dimeja depan ruang interview sudah disediakan daftar hadir, aku segera menandatanganinya. Dan aku lihat,peserta yang hadir ada 250 orang lebih. Lebih banyak dari dugaanku.
Setelah mengisi daftar hadir kami dipersilahkan masuk keruangan dan diberikan sedikit pengarahan tentang program seleksi ini. Ada dua tahap psikotest dan interview. Setelah selesai pengarahan kami menunggu giliran dipanggil psikotes. Setengah jam kemudian giliranku tiba. Aku masuk keruangan untuk psikotest. Setelah selesai aku menunggu lagi untuk interview. Bagian ini yang paling menakutkan untukku.
Giliran interviewku tiba. Aku dipersilahkan duduk. Dan ditanya berbagai hal. Dan diakhir perbincangan dengan staff yang baru saja mewawancaraiku, dia mengatakan bahwa aku tidak cocok dengan kriteria yang dibutuhkan bank tersebut. Mereka mempersilahkan aku pulang.
Awalnya aku merasa biasa saja. Mungkin memang belum rejeki.

***

Aku menuju ke parkiran bergegas pulang. Aku duduk di motorku, mencari ponselku didalam tas. Aku mengirim pesan untuk orang tuaku, mengabari mereka bahwa aku gagal. Dan saat itu, aku merasa bersalah. Merasa belum bisa membanggakan mereka.
Aku masih duduk dimotor, mereka membalas mendoakan aku dapat yang terbaik daripada bank ini.
Aku beranjak pulang, dan keluar dari gedung. Entah perasaan apa yang memasuki hatiku diperjalanan. Aku semakin merasa tidak membanggakan. Tak terasa air mataku tak tertahankan. Air mataku mengalir dengan deras saat perjalanan pulang.
Disepanjang perjalanan itu, di motor itu. Aku menagis sejadinya sambil tetap mengendarai motorku.
Perjalanan yang cukup lama dan tangisan yang cukup lama juga.
Sebentar lagi aku sampai dirumah tapi rasanya aku tidak ingin pulang. Rasanya aku tak kuat melihat kedua orang tuaku. Aku telah mengecewakannya. Meskipun mereka tidak apa-apa. Tapi jujur, aku malu.
Aku menghentikan motorku dan mengeluarkan ponsel dari tasku. Mencari satu nama dikontakku. Seseorang. Tempat keluh kesahku.
Aku mengirimkan pesan padanya, menanyakan keberadaannya. Aku berharap dia ada disebuah tempat makan yang biasa kami kunjungi. Tapi harapan itu kosong. Sepertinya, hari ini sama sekali tidak berpihak padaku. Dia tidak disana. Meskipun dia mengatakan dia akan kesana sore nanti. Tapi aku butuh ia sekarang.
Aku bingung. Entah harus kemana. Harus mengadu kemana. Aku benar-benar butuh seseorang untuk menumpahkannya. Aku tak tahan. Tangis itu pecah lagi.
Aku melanjutkan perjalananku yang entah kemana. Aku berhenti lagi. Mengirimi pesan untuk orang tuaku bahwa aku tak segera pulang. Aku mengatakan bahwa aku ingin ke toko buku. Mereka mengiyakan serta meminta tolong untuk membelikan adikku buku untuk ujian.
Sebenarnya aku hanya berbohong mengatakan ke toko buku, tapi karena mereka memintaku membelikan buku, akhirnya aku kesana. Toko buku dekat tempat makan yang biasa aku kunjungi dengan seseorang.

***

Aku sampai ditoko buku, memilih buku yang terbaik untuk adikku. Saat berjalan menuju kasir. Aku berhenti sejenak. Melihat salah satu buku yang bersusun rapih di rak. Aku mengambil buku itu. Aku tidak tahu kapan buku itu akan aku baca. Tapi setidaknya, itu bisa menjadi obatku saat ini.
Dan akhirnya aku berlalu kekasir. Aku memutuskan untuk mengunjungi tempat makan yang biasa aku kunjungi dengan seseorang setelah dari toko buku ini.
Akhirnya benar-benar ketempat makan itu. Aku memarkirkan motorku dihalaman tempat makan itu. Crew tempat makan itu menyambut dengan hangat. Aku duduk ditempat biasa. Dilesehan. Rasanya sejuk dan nyaman duduk dan menikmati makanan disana. Dengan udara yang bersih karena dikelilingi berbagai macam tumbuhan, layaknya makan disebuah kebun. Nuansa asri pedesaan yang disediakan disini selalu membuatku jatuh cinta...

Aku menyantap makanan yang telah disediakan. Mencoba melupakan kejadian di bank tadi. Aku mendengus kesal, bagaimana mungkin staff tadi menolakku begitu saja. Bahkan sepertinya tidak ada pertimbangan. Aku mendengus lagi. Kesal bukan main.
Makanan utama yang disajikan sudah habis aku santap dengan perasaan kesal.
Aku menyandarkan diri dibilik bambu lesehan ini. Mencoba me-rileks-kan diriku. Aku teringat buku yang tadi aku beli. Aku membuka bungkusnya. Dan membuka halaman dibuku itu. Mencoba melupakan semua yang terjadi hari ini. Selain tentang bank itu, sejujurnya aku juga sangat kecewa, seseorang yang aku harapkan bisa menjadi tempatku mengadu justru tidak ada disaat seperti ini.
Aku mencoba mengalihkannya dengan buku ini. Aku membacanya halaman demi halaman. Semakin aku masuk kedalam cerita ini, semakin aku sadar bahwa alur dalam buku ini sangat mirip dengan alur cerita kehidupanku. "Daun yang jatuh tak pernah membenci angin". Buku karangan Tere-Liye.
Ya, buku ini sangat mirip. Harusnya sikapku terhadap seseorang ini, bisa seperti sikap Tania pada ka Danar. Harusnya aku bisa lebih dewasa seperti Tania. Dan harusnya, dia juga membaca buku ini. Tapi itu tidak mungkin. Dia tidak suka membaca.
Jadi, akulah yang harus bersikap. Aku akan mencoba. Sesulit apapun itu. Aku akan mencoba.

***

Aku benar-benar tenggelam dalam buku ini. Aku melupakan kejadian dibank tadi. Seseorang itu? Sejujurnya aku masih berharap dia datang untukku. Bukan untuk yang lain. Tetapi, aku baru saja menerima pesan masuk, bahwa ia akan datang, untuk pekerjaannya. Bukan untukku. Yasudahlah. Bahkan sebentar lagi juga aku akan pulang. Aku sudah tidak ingin menemuinya lagi hari ini. Mungkin akan lebih baik dilain hari.

***

Belajar dari hari ini. Sebesar apapun harapanmu, harusnya kau tak menggantungkannya pada seseorang. Tapi pada Allah. Sebesar apapun masa sulitmu, harusnya kau tidak mencari seseorang untuk diceritakan, karena itu hanya akan  menyakitkan jika seseorang itu tak mampu ada untukmu. Harusnya kau mencari Allah tempatmu mengadu.

Comments

Popular posts from this blog

Love In Paris

France, So I'm Fall in Love

​Andai Allah bisa Cemburu