Tentang mimpi yang tak pernah berakhir.
Hari ini, 5 november 2016 – tepat satu hari setelah terjadinya #AksiBelaQuran di Jakarta oleh hampir seluruh umat islam di Indonesia.
Awalnya gue ngerasa biasa aja tentang aksi ini, berjalan atau tidak gue hanya akan sebagai penonton ketika umat islam yang lain berjuang untuk agamanya. Sampai akhirnya gue berfikir, gue itu bener-bener seorang Muslim bukan sih?
Kenapa bisa ngerasa biasa aja ketika orang lain sedang berjuang buat agama yang juga gue percaya.
Sampai akhirnya gue ngebathin,”Kalau emang setidaknya ga bisa turun di jalan untuk ikut membela Islam, setidaknya gue ga hanya duduk diam tanpa melakukan apapun. Bukankah Allah itu Maha Mendengar? Minimal kalau emang ga bisa ikut bergerak fisik ya bergerak lisan, doakan orang-orang yang melakukan aksi semoga selalu dalam Lindungan Allah. Mereka itu saudara-saudara kita juga kan”.
Kenapa bisa ngerasa biasa aja ketika orang lain sedang berjuang buat agama yang juga gue percaya.
Sampai akhirnya gue ngebathin,”Kalau emang setidaknya ga bisa turun di jalan untuk ikut membela Islam, setidaknya gue ga hanya duduk diam tanpa melakukan apapun. Bukankah Allah itu Maha Mendengar? Minimal kalau emang ga bisa ikut bergerak fisik ya bergerak lisan, doakan orang-orang yang melakukan aksi semoga selalu dalam Lindungan Allah. Mereka itu saudara-saudara kita juga kan”.
Okay, sampai akhirnya gue memutuskan untuk setidaknya berdoa untuk mereka yang turun ke jalan untuk membela Islam.
Tapi, postingan kali ini bukan cuma tentang itu, seperti judul yang tertera “Tentang mimpi yang tak pernah berakhir”.
Yap, mimpi yang tak pernah berakhir.
Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallahu Allahu Akbar.
Satu kalimat yang bisa gue ucapin ketika kemarin ngeliat ribuan Muslim berkumpul di Jakarta. Cerminan ketika muslim berkumpul itu indah. Semua orang berpakaian putih, rasanya adem banget liatnya.
Subhanallah Walhamdulillah Walailahaillallahu Allahu Akbar.
Satu kalimat yang bisa gue ucapin ketika kemarin ngeliat ribuan Muslim berkumpul di Jakarta. Cerminan ketika muslim berkumpul itu indah. Semua orang berpakaian putih, rasanya adem banget liatnya.
Okay, back to topik – Mimpi. Ketika ngeliat pemandangan begitu, terbesit dalam hati gue, “Indah banget rasanya ya kalau punya pondok pesantren”.
Setiap hari akan liat santri dan satriwati berkumpul. Dengan tatapan teduh, dengan ilmu yang benar, dengan langkah yang mantap dan percaya.
Rasanya indah banget.
Setiap hari akan liat santri dan satriwati berkumpul. Dengan tatapan teduh, dengan ilmu yang benar, dengan langkah yang mantap dan percaya.
Rasanya indah banget.
Mimpi – semua orang berhak bermimpi bukan?
Walau ilmu yang dimiliki sekarang masih belum seberapa. Jangankan untuk mendirikan sebuah pesantren, menjadi seorang guru saja rasanya masih perlu banyak belajar.
Tapi mimpi itu tak terbatas. Siapa tau, kelak Allah menambahkan sedikit demi sedikit ilmunya untuk hambanya ini. Semoga bukan termasuk yang pelit berbagi ilmu. Aamiin.
Tapi mimpi itu tak terbatas. Siapa tau, kelak Allah menambahkan sedikit demi sedikit ilmunya untuk hambanya ini. Semoga bukan termasuk yang pelit berbagi ilmu. Aamiin.
Comments