Aku
Pernahkah kamu merasa sangat mencintai seseorang tapi kenyataannya kamu tidak bisa memilikinya seutuhnya?
Jika pernah, kamu pasti tau betapa menyakitkannya perasaan itu.
Perasaan yang jika kamu mencoba membunuhnya hanya akan membuat semua mimpimu pudar secara perlahan.
Perasaan yang jika diikuti alurnya hanya akan membuat kamu di lingkari perasaan bersalah pada setiap detik hidupmu.
Berlebihan. Tapi jika kamu pernah merasakannya, itu sama sekali tak berlebihan.
Aku, hanya seorang wanita biasa yang mencintai seorang lelaki sejak aku duduk dibangku sekolah menengah.
Bagiku, kehadirannya selalu memberi kehangatan tersendiri dalam hidupku.
Hidupku memang penuh cinta; keluarga, teman, sahabat; mereka semua mencintaiku begitu tulus.
Tapi bagiku, semua belum lengkap tanpa seseorang spesial yang menetap dihati. Sampai akhirnya ia datang, sempurna duniaku. Rasanya itu yang aku rasakan ketika aku masih duduk dibangku sekolah.
Sempurna.
Kata itu tak pernah berlebihan bagiku. Sampai akhirnya aku sadar bahwa sempurna sejatinya memang hanya milik Allah.
Dia yang aku pikir sempurna, pergi. Meski tidak benar-benar pergi tapi hatinya sudah dimiliki orang lain. Aku? Terdampar sendiri disudut gelap. Seolah ia membawa duniaku pergi bersamanya.
Ia memang tidak benar-benar pergi, entah apa yang membuat aku selalu percaya suatu saat dia akan kembali. Entah apa yang membuatku selalu merasakan kehadirannya disetiap langkah yang aku ambil. Semua kata-kata yang ia ucapkan selama aku duduk dibangku sekolah, entah sadar atau tidak aku menuruti semuanya sampai saat ini - sampai aku duduk dibangku kuliah. Bahkan jurusan kuliah yang aku ambil saat ini adalah salah satu sarannya. Bukankah ini tidak masuk akal?-
Satu hal yang selalu aku ingat ketika aku masih dibangku sekolah; ketika dia pergi, sebelum pergi ia pernah mengatakan padaku untuk belajar dengan baik dan saat itu dia akan kembali padaku. Satu hal yang sampai sekarang memang tidak terbukti apa-apa. Hingga aku dibangku kuliah. Ia bahkan tidak kembali seutuhnya untukku.
Saat ini, setelah aku melewati setengah masaku di bangku kuliah, ia hadir kembali.
Kamu pasti tau betapa bahagianya aku, bahkan lebih bahagia dari pada awal kami bertemu.
Tapi, sebahagia apapun, ia tetap tidak bisa aku miliki seutuhnya.
Kamu pasti tau betapa menyakitkannnya ini, bahkan lebih menyakitkan dari pada ketika ia pergi.
Aku memang bahagia, mendapatkan kembali seorang yang selama ini aku tunggu selama hidupku.
Tapi rasanya bahagiaku tak sempurna, bagaimana bisa aku bahagia ketika ada hati yang terluka ketika melihatku bersamanya....
Aku, hanya seorang wanita, wanita yang memiliki impian untuk bahagia bersama orang yang aku pilih, tanpa harus melukai seorangpun demi bahagiaku.
Andai aku bisa....
Jika pernah, kamu pasti tau betapa menyakitkannya perasaan itu.
Perasaan yang jika kamu mencoba membunuhnya hanya akan membuat semua mimpimu pudar secara perlahan.
Perasaan yang jika diikuti alurnya hanya akan membuat kamu di lingkari perasaan bersalah pada setiap detik hidupmu.
Berlebihan. Tapi jika kamu pernah merasakannya, itu sama sekali tak berlebihan.
Aku, hanya seorang wanita biasa yang mencintai seorang lelaki sejak aku duduk dibangku sekolah menengah.
Bagiku, kehadirannya selalu memberi kehangatan tersendiri dalam hidupku.
Hidupku memang penuh cinta; keluarga, teman, sahabat; mereka semua mencintaiku begitu tulus.
Tapi bagiku, semua belum lengkap tanpa seseorang spesial yang menetap dihati. Sampai akhirnya ia datang, sempurna duniaku. Rasanya itu yang aku rasakan ketika aku masih duduk dibangku sekolah.
Sempurna.
Kata itu tak pernah berlebihan bagiku. Sampai akhirnya aku sadar bahwa sempurna sejatinya memang hanya milik Allah.
Dia yang aku pikir sempurna, pergi. Meski tidak benar-benar pergi tapi hatinya sudah dimiliki orang lain. Aku? Terdampar sendiri disudut gelap. Seolah ia membawa duniaku pergi bersamanya.
Ia memang tidak benar-benar pergi, entah apa yang membuat aku selalu percaya suatu saat dia akan kembali. Entah apa yang membuatku selalu merasakan kehadirannya disetiap langkah yang aku ambil. Semua kata-kata yang ia ucapkan selama aku duduk dibangku sekolah, entah sadar atau tidak aku menuruti semuanya sampai saat ini - sampai aku duduk dibangku kuliah. Bahkan jurusan kuliah yang aku ambil saat ini adalah salah satu sarannya. Bukankah ini tidak masuk akal?-
Satu hal yang selalu aku ingat ketika aku masih dibangku sekolah; ketika dia pergi, sebelum pergi ia pernah mengatakan padaku untuk belajar dengan baik dan saat itu dia akan kembali padaku. Satu hal yang sampai sekarang memang tidak terbukti apa-apa. Hingga aku dibangku kuliah. Ia bahkan tidak kembali seutuhnya untukku.
Saat ini, setelah aku melewati setengah masaku di bangku kuliah, ia hadir kembali.
Kamu pasti tau betapa bahagianya aku, bahkan lebih bahagia dari pada awal kami bertemu.
Tapi, sebahagia apapun, ia tetap tidak bisa aku miliki seutuhnya.
Kamu pasti tau betapa menyakitkannnya ini, bahkan lebih menyakitkan dari pada ketika ia pergi.
Aku memang bahagia, mendapatkan kembali seorang yang selama ini aku tunggu selama hidupku.
Tapi rasanya bahagiaku tak sempurna, bagaimana bisa aku bahagia ketika ada hati yang terluka ketika melihatku bersamanya....
Aku, hanya seorang wanita, wanita yang memiliki impian untuk bahagia bersama orang yang aku pilih, tanpa harus melukai seorangpun demi bahagiaku.
Andai aku bisa....
Comments