Beratnya Terima Kasih

Cerita I
"Mama, aku berangkat sekolah dulu yah" teriak anak kecil yang masih duduk dibangku Sekolah Dasar.
"Iya kamu hati-hati yah, ini uang buat jajan"  kata seorang ibu kepada anak kecil itu sambil mengulurkan tangannya yang berisi beberapa lembar uang rupiah.
"Iya mah, makasi yaaaa" balas anak kecil itu. Anak kecil itupun berlalu meninggalkan ibunya setelah mencium punggung tangan sang ibu.


Cerita II
"Mama, aku berangkat sekolah dulu yah" teriak gadis remaja yang duduk dibangku Sekolah Menengah Atas.
"Iya kamu hati-hati yah, ini ongkosnya"  kata seorang ibu kepada gadis itu sambil mengulurkan tangannya yang berisi beberapa lembar uang rupiah.
"Iya mah, berangkat dulu yah" kata gadis itu sambil mencium tangan ibunya setelah itu berlalu menuju sekolahnya.



Satu contoh kesalahan kecil yang kalo diteruskan bisa berakibat fatal.
Coba bandingkan cerita 1 dan cerita 2, kalo dilihat dalam kehidupan sehari-hari tanpa perbandingan mungkin terlihat tidak ada yang salah. Tapi kalo ditelusur lebih dalam pasti ada perbedaannya.

Cerita I menggambarkan seorang anak Sekolah Dasar yang masih lugu dan masih mengerti tata cara hidup yang baik. Karena dalam cerita 1, disitu digambarkan kalo ada anak kecil yang hendak berangkat sekolah dan berpamitan kepada Ibunya, setelah itu ibunya memberikan ia uang jajan dan ia membalas dengan ucapan "Makasih ma"

Sedangkan, Cerita II menggambarkan seorang anak remaja yang sudah sedikit menggunakan cara hidup yang salah. Bagaimana bisa gue bilang salah? karena dari cerita diatas digambarkan seorang anak remaja yang hendak berangkat sekolah dan berpamitan kepada sang Ibu dan Ibunya dengan sangat baik hati memberikan uang jajan bagi anaknya yang seharusnya sudah bisa mencari penghasilan sendiri, tetapi ia mengabaikan kebaikan hati sang Ibu. Kenapa bisa gue bilang gitu juga? Karena gadis remaja itu tidak mengucapkan kata "terima kasih" kepada sang Ibu. Hmm ada yang berfikiran mungkin dia lupa? tapi menurut gue mereka yang tidak mengucapkan terima kasih bukan karena lupa, logikanya, gak mungkin orang lupa setiap hari. Yaa kan?

Mereka bukan lupa, tetapi mereka malu untuk mengatakan terima kasih untuk orang tua mereka. Ya, anak remaja dan bahkan dewasa sekalipun tanpa disadari "malu mengatakan terima kasih kepada kedua orang tua. Kenapa bisa malu? pertanyaan itu yang harus kita lontarkan kepada diri kita yang malu berterima kasih kepada orang tua. Apa karena kita merasa bahwa kita sudah besar dan tidak perlu melontarkan kata terima kasih kepada kedua orang tua kita? atau karena merasa ini semua udah menjadi kewajiban mereka melayani kita? atau karena merasa kita sudah mampu mencukupi hidup kita dan kita berhak sombong atas semua itu termasuk sombong kepada kedua orang tua dan tidak perlu rasanya berterima kasih? Kalau begitu kenyataannya, kita sama saja memiliki hati nurani tapi tidak berguna. betul tidak ? kalo hati nurani kita berguna pastinya kita tidak akan sungkan atau malu atau takut merasa harga diri kita berkurang hanya karena kata "terima kasih" yang kita lontarkan untuk kedua orang tua kita, bukan?

Padahal, orang tua kita saja tidak pernah malu mengatakan "terima kasih" kepada kita. Bukankah kita sering mendengar, disaat mereka meminta kita untuk membantu pekerjaan mereka atau hanya sekedar membelikan garam, mereka selalu mengucapkan "terima kasih ya". padahal apa yang kita lakukan tak sebanding dengan apa yang mereka lakukan.


Ayolah guys, sadar kalo yang paling berharga di dunia ini itu cuma kedua orang tua kita, apakah kita mau selamanya berlaku angkuh kepada mereka??? Pasti jawabannya tidak. Jadi dimulai dari sekarang yaah untuk mencoba mengatakan kata "terima kasih" kepada kedua orang tua kita :)

Kalo bukan sekarang, kapan lagi? kalo bukan kita siapa lagi?

Terima kasih atas waktunya membaca notes ini :)

Comments

Popular posts from this blog

Love In Paris

France, So I'm Fall in Love

​Andai Allah bisa Cemburu